Analisis
isi dari tajuk rencana Kompas, Selasa, 29 Mei 2012 yang berjudul Refleksi Hasil
Ujian Nasional dilihat dari kelengkapan SPECS (Situation, Position, Evidence, Conclution, Solution). Tajuk ini
masuk kedalam kategori to evalute, karena
isinya adalah mengevaluasi hasil dari ujian nasional.
Pada
paragraf pertama dijelaskan situation
atas permasalahan mengenai kelulusan ujian nasional siswa Indonesia bagian
timur yang mengalami peningkatan. Berikut paragrafnya “Kelulusan ujian nasional
(UN) jenjang SMA/MA/SMK di Merauke, Papua, mencapai 95 persen. Hanya saja, hal
itu dinilai bukan patokan kualistas kelulusan. Hal itu tidak usah dibanggakan,
ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Merauke Vincentius Mekiuw di
Merauke, Sabtu (26/5).”
Posisi
dalam tajuk ini ditunjukkan dengan judul dan keseluruhan isinya yang
menjelaskan tentang evaluasi dari hasil ujian nasional, bahwa siswa lulusan
dari Indonesia timur memiliki pesaing ketat dalam memasuki perguruan tinggi
terutama bagi mereka siswa dari lulusan Jawa.
Sementara untuk evidence-nya,
tajuk ini memberikan beberapa bukti tentang alasan mengapa siswa dari Indonesia
timur tidak bisa berkancah nasional. Berikut paragrafnya “Menyimak pernyataan di atas menguatkan apa
yang selama ini diwacanakan, khususnya saat UN tiba, yaitu adanya kesenjangan
taraf pendidikan di tanah air. Di wilayah barat, pendidikan relatif maju.
Lulusan UN bisa langsung bersaing secara setara di kancah perguruan tinggi
terkenal. Sebaliknya, siswa dari Merauke, jika ingin masuk PTN terkenal, harus
martikulasi satu tahun kalau mau setaraf dengan lulusan setingkat dari Jawa.”
Lalu pada paragraf selanjutnya “Kini, meski lulus dengan presentase tinggi,
dari kawasan Indonesia timur masih timbul kerisauan tentang bagaimana bersaing
dengan lulusan asal Jawa. Ini kerisauan yang harus kita pikirkan upaya
mengatasinya. Sejumlah putra Indonesia timur, seperti dari Papua atau NTT,
berhasil menunjukkan intelegensia tinggi, seperti unggul dalam olimpiade
fisika. Tugaskitaberikutnya, bagaimana kita menjadikanitusebagai pola, bukan
kasus”.
Conclusion
dari editorial ini terlihat pada paragaraf “Indonesia dewasa ini dihadapkan
pada isu Hypercomplexity. Hal ini
menuntut tersedianya sumber daya insani unggul sebanyak-banyaknya dari berbagai
penjuru. Hiperkompleksitas tak jarang menuntut kecakapan matematika untuk
meresponsnya. Padahal, menurut berita, banyak ketidaklulusan UN disebabkan
nilai matematika hanya dua. Ini tantangan yang perlu kita jawab karena
matematika menjadi ilmu pengetahuan dasar bagi pengembangan sains dan teknologi
yang dibutuhkan di era modern”.
Terakhir
untuk solution ditunjukkan pada
paragraf terakhir yang menyatakan tentang harapan agar masalah yang sudah
terjadi tidak terulang lagi. Berikut paragrafnya “Mari kita jadikan pasca-UN
sebagai momentum berbenah. Sebagai bangsa pembelajar, jangan lagi kita
mendengar kabar serupa tahun depan, karena hakikat pembelajaran adalah
dicapainya perbaikan, bukan pencapaian yang sama dengan kemarin, apalagi lebih
buruk”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar